"Abi .. abi ayo bangun, sebentar lagi sudah adzan shubuh lho, ayo bangun bi .. bangun". Mendengar suara si kecil itu, kucoba membuka mataku yang masih terasa sangat berat. Rasanya capek sekali, seluruh badanku terasa letih. Maklum sudah seminggu ini aku disibukkan oleh persiapan pembukaan distro baru RumahMuslimah di Johor Malaysia dan baru jam 2 malam tadi aku sampai ke rumah dengan penerbangan maskapai SQ terakhir.
Meski hanya seminggu di Malaysia, namun rasa kangen saya pada Fauzan dan adeknya ini benar-benar membuncah. Kangen sekali rasanya ingin segera memeluk mereka, bercanda dengan mereka atau hanya sekedar membacakan mereka dongeng sebelum tidur. Namun pagi tadi setibanya dirumah kuurungkan juga niat untuk membangunkan mereka. Meski kangen sekali tapi aku tidak tega untuk membangunkan mereka yang kulihat tertidur lelap dengan mimpi indahnya ...
"Oke adek, abi sudah bangun kok. Adek kangen nggak sama abi?" tanyaku. "Iya bi adek kangen bi. Tiap hari adek nanyain kapan abi pulangnya sama umi" jawab si kecil bersemangat. "Wah abi juga kangen sekali sama adek. Sini peluk abi dong", pintaku. Dan segera saja si kecil memelukku erat. Kangenku seminggu ini serasa terobati dengan pelukan si kecil ini. "Oia dek, umi dan kak Uzan dimana ya?", tanyaku lagi. "Kak Uzan tadarus bi di kamarnya, kalau umi lagi masak sama bibi di dapur", jawab si kecil. Kalau begitu ayo kita cepet bangun yuk, kita siap-siap ke masjid. Adek sana minta tolong mba Tuti ganti baju dulu ya", kataku. "Oke abi". Segera saja si kecil turun dari tempat tidurku dan berlari kecil memanggil baby sitter-ku untuk membantunya berganti pakaian dan siap-siap ke masjid, sementara aku segera masuk kamar mandi lalu berganti pakaian.
"Kak Uzan, hayo lagi ngapain?" Kuhampiri anak pertamaku yang sedang asyik tadarus Al-Quran di kamarnya. "Waaah, abi sudah bangun ya? Kakak kangen banget bi, abisnya abi kelamaan perginya". "Lho kan tiap hari kakak selalu Video Call sama abi". "Yaa beda dong bi kan di Video cuma gambar abi doang". "Ya sudah sini sekarang peluk abi. Abi juga kangen banget lho sama kakak, sini sayang". Setelah puas memeluk abinya, Fauzan putra sulungku segera menyelesaikan tadarusnya. "Abi tunggu ya kak sama adek di bawah". Tak lama putraku mengikutiku menyusuri tangga ke bawah menuju ke dapur.
"Abi kakak sudah siap berangkat, umi abis dari masjid nanti kakak mau makan yang enak ya mi". "Beres kak nanti umi siapkan", gumam istri tercintaku menimpali. "Aku juga ya mi, kalau aku mau makan kentang, goreng ayam sama susu strawberry", si kecil tidak mau ketinggalan. "Oke jangan khawatir nanti sepulang dari masjid umi jamin makanan enak sudah di meja makan". "Horeee", teriak kedua anakku bersamaan. Hehe, memang begitulah tradisi keluargaku sejak pindah ke rumah ini, setiap akhir pekan seperti hari ini aktivitas dimulai dengan sarapan pagi-pagi selepas shalat shubuh.
Tak lama setelah pamitan, kami bertiga berangkat menuju masjid kompleks yang hanya berjarak 100m dari rumahku. Terus terang, aku sangat bersyukur karena rumah yang sejak 2 tahun kutempati ini jauh lebih kondusif lingkungannya dibanding rumahku yang pertama. Berada tak jauh dari jantung kota Bandung, lingkungannya masih asri, penduduknya ramah dan islami, dan yang sangat menyenangkan adalah fasilitasnya lengkap. Tak salah jika dulu, Elvan sahabat karibku merekomendasikan perumahan Dago Estate ini.
Sesampainya kami di masjid ternyata pas sekali adzan shubuh mulai berkumandang. Kudengar hampir bersamaan adzan saling bersahutan berkumandang dari masjid ke masjid yang berada di sekitar komplek perumahan kami. Sang muadzin mengumandangkannya dengan sangat indah dan bersemangat mengajak para muslim terbangun untuk segera menghadap sang khalik. Tak lama setelahnya dilanjutkan dengan lantunan suara imam yang membacakan ayat-ayat cinta sang Maha Indah, pagi itu terasa benar-benar indah, sebuah ritual ibadah yang sangat bermakna bagiku.
Setelah shalat shubuh berakhir kusempatkan untuk bersilaturrahiim, bercengkrama sejenak dengan tetangga-tetanggaku yang juga hadir di masjid pagi itu. Sebagian besar dari mereka bermata pencaharian sepertiku, berwirausaha. Ada yang di bidang forwarder, eksportir multi-trading, IT-preneur dan yang baru-baru ini bergabung di kompleks kami yaitu pak Ahmad yang sukses mengembangkan usaha makanan tradisional Indonesia di lebih dari 10 negara. Luar biasa, terlebih di usianya yang hanya terpaut 2 tahun lebih tua dariku beliau berhasil melanglang buana di kancah bisnis dunia. Satu yang saya kagumi dari semua teman-teman bisnis di kompleks kami, semuanya tawadhu dan tidak sombong dengan apa yang mereka raih dan mereka memiliki prinsip sebagaimana yang aku yakini, yaitu senantiasa menebar rahmat untuk semua insan. Kuakhiri diskusi kami pagi itu untuk segera melangkah kembali ke rumah. Soalnya Fauzan dan adiknya sudah menarik-narik tanganku minta cepet pulang, sudah laper katanya :)
Tepat sebelum pamitan, pak Ali tetanggaku yang datang terlambat berjamaah pagi ini mencegatku. Beliau ini adalah pemilik dept. store muslim yang cukup ternama di Jawa Barat. Ternyata beliau mengingatkanku untuk segera meminta pasokan baru busana muslim karena stoknya di beberapa dept. store miliknya sudah sangat menipis. Alhamdulillah, rezeki yang luar biasa pagi ini, gumamku. Segera saja kuiyakan dan menyampaikan hal itu akan segera di-follow-up stafku sabtu pagi ini juga.
Setelah pamitan dan salam, segera saja kami pulang menuju rumah tercinta. Dalam benakku diam-diam aku berfikir masakan istimewa apa ya yang akan disajikan istriku. Hehe, sejak 4 tahun lalu ketika aku memutuskan berhenti bekerja dan terjun mengepalai bisnis kami yang saat itu sedang berkembang, istriku jadi punya banyak waktu. Sejak itu dia mulai punya hobi baru yang sebelumnya tidak pernah ia fikirkan. Apalagi kalau bukan hobi memasak dan menata rumah. Namun demikian aktifitasnya membantuku di bisnis, tidak pernah luntur selalu semangat 45.
Selama 5 tahun belakangan ini kami benar-benar bekerja keras. Apalagi di tahun 2008 dulu ketika kami nekat memutuskan akselerasi bisnis dengan meminjam uang yang cukup besar amountnya dari bank. Tahun itu kami benar-benar nekat dan super sibuk karena aku masih TDB waktu itu. Namun dengan izin Allah, kenekatan kami itu berhasil sehingga kami bisa sesukses sekarang.
Jika tidak nekat untuk membuka 4 toko offline tahun itu, rasanya kami tidak akan memiliki lebih dari 25 toko offline saat ini, 10 toko online dan 3 cabang di mancanegara termasuk yang akan buka minggu depan di Johor Malaysia, dan belum lagi kerja sama kami untuk menyupplai puluhan butik dan dept store seperti yang milik pak Ali tetangga kami. Dan yang lebih membuatku bersyukur, saat ini kami sudah bisa membantu menghidupi lebih dari 200 orang karyawan, menghajikan dan memberikan penghidupan yang lebih baik untuk orangtua kami, membantu keluarga besar dan masih ada lagi. Subahanllah alhamdulillah, dengan izin Allah kami benar-benar telah bisa masuk dalam circle menebar rahmat; terima kasih kepada keluargaku TDA yang sejak awal mengajariku tentang ini.
"Assalaamu'alaikum umi", Fauzan dan adiknya bersemangat mengucapkan salam mendahuluiku. "Wa'alaikumussalam kak Uzan dan adek, ayo umi sudah menyiapkan semua masakan kesukaan kalian", jawab istriku yang sedang menata masakan di meja. "Kalau masakan favorit abi gimana mi?" gumamku manja. "Beres darling, umi juga sudah siapkan", jawab istriku mantap. "Thank you darling, i luv u so much hehehe" godaku. Istriku pun tersenyum mendengarnya, indah sekali senyumnya.
Pagi itu semuanya tampak lahap sekali makan, terlebih Fauzan dan adiknya. Mereka adalah buah hatiku yang senantiasa membuat aku dan istri tersenyum.
"Oia bi dua hari lalu ada telepon dari member TDA Japan, mereka ingin sekali mengundang kita ke Japan untuk melihat peluang di sana. Katanya dia akan kirim agendanya Selasa depan. Dan juga ada yang nanyain abi dari majalah Bisnis Week, dia tertarik untuk meliput bisnis distro muslim kita setelah melihat profil bisnis kita diliput kompas dan RCTI minggu lalu". "Wah subhanallah ya mi, peluang terus berdatangan tanpa kita duga", tuturku. "Iya bi, luar biasa. Umi jadi teringat, jika dulu kita tidak memilih berbisnis, rasanya apa yang kita rasakan saat ini hanya khayalan saja", istriku menambahkan. "Benar sekali mi, apa yang kita dapatkan saat ini adalah buah dari pilihan hidup kita dulu. Alhamdulillah kita bisa istiqamah di jalan ini meski banyak rintangan dan tantangan silih berganti. Terima kasih telah berjuang menemaniku hingga hari ini. Thanks dear". Istriku tersenyum indah kembali sambil berkata "I'll do my best for us dear".
Setelah selesai makan, kami berkumpul di depan beranda rumah sambil bercengkrama dan bercanda, suasana yang luar biasa membahagiakan bagiku bisa berkumpul selalu sekeluarga seperti ini. Dan tak terasa hari sudah mulai terang dan kabut dingin yang biasa menyelimuti malam-malam kami pun sudah mulai menghilang. Sebagai gantinya kini taman mawar kami dan kolam kecil yang bening terlihat sangat anggun menjadi wallpaper hidup di depan beranda kami. Pemandangan seperti ini yang membuat saya betah berlama-lama bersantai di beranda rumah baik untuk sekedar menerima tamu, membaca koran pagi dan sore langganan saya, menemani Fauzan atau adiknya bermain bahkan sambil browsing atau bekerja dengan macbook air terbaru favorit saya saat ini.
Alhamdulillah, saya sangat bersyukur karena IT yang dulu menjadi pekerjaan saya sewaktu TDB kini telah menjadi hobby yang sangat menyenangkan bagi saya. Saat ini di rumah kami, sudah terpasang hotspot yang memungkinkan semua laptop kami atau Iphone 3G terbaru kesayangan saya dan istri untuk terhubung ke dunia maya dari semua ruangan di rumah kami. Baik di ruang tamu, ruang kerja, ruang belajar anak-anak, kamar tidur, beranda, halaman rumah, kolam renang belakang, dapur, ruang keluarga di lantai 2 maupun di paviliun tempat tinggal pembantu dan supir kami.
Sambil bersantai dan menikmati kopi moccacino kesukaanku yang baru saja diseduh oleh istriku, kulalui pagi yang indah itu. Sebuah pagi yang sangat indah yang saya mimpikan 5 tahun lalu. Kini, semuanya sudah terwujud dan menjelma sesuai dengan LOA saya 5 tahun lalu. Dan pagi itu sebagaimana indahnya pagi-pagi yang lain dalam kehidupanku kini, senang sekali rasanya melihat Fauzan yang kini sudah masuk kelas 3 SDIT favorit di Bandung begitu cerianya bermain game di laptop kesayangannya sementara adiknya yang baru di TK B antusias sekali dengan mainan robot yang kubelikan dari Malaysia kemarin. Sementara istriku duduk menemaniku sambil membicarakan langkah-langkah kami ke depan ....
.......
Saat ini semua yang saya ceritakan di atas baru sebatas mimpi indah kami. Namun dengan izin Allah dan perjuangan yang kami tempuh di atas pilihan kami saat ini, semua itu kami yakini akan terwujud. Ya Allah izinkanlah kami mewujudkan semua impian kami yang baik untuk mendapatkan yang terbaik dari kehidupan kami di dunia dan akhirat, amiin ya Robbal 'aalamiin.
Cheers,
Teguh
Owner RumahMuslimah
Owner OmahKerudung
Owner AzkAcollections
Aku, 5 tahun dari sekarang
Thursday, March 27, 2008
Posted by
Bang Azmi
at
9:49 AM
Labels: Motivation
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





0 comments:
Post a Comment